Kuliah di Arab Saudi sering terdengar menarik buat banyak pelajar Indonesia. Selain terkenal dengan universitas berbasis studi Islam dan fasilitas kampus yang besar, beberapa kampus di Saudi juga menawarkan beasiswa penuh untuk mahasiswa internasional. Tapi di balik semua itu, banyak yang masih penasaran: sebenarnya biaya hidup mahasiswa di Saudi mahal nggak, sih?
Jawabannya cukup menarik. Dibanding beberapa negara tujuan studi lain, biaya hidup di Saudi bisa terasa lebih terjangkau di beberapa aspek, apalagi kalau kamu mendapat beasiswa. Secara umum, mahasiswa internasional biasanya menghabiskan sekitar SAR 1.500 – 3.500 per bulan, atau sekitar Rp6,5 – 15 jutaan tergantung kota dan gaya hidup. Nah, sebelum kamu membayangkan hidup di Riyadh atau Madinah, yuk kenalan dulu dengan gambaran biaya hidup mahasiswa di sana!
Tempat Tinggal Banyak yang Sudah Disediakan Kampus
Kabar baiknya, banyak universitas di Saudi menyediakan asrama gratis atau subsidi tempat tinggal untuk mahasiswa internasional, terutama penerima beasiswa. Jadi, pengeluaran terbesar yang biasanya bikin pusing mahasiswa luar negeri bisa jauh lebih ringan.
Kalau pun harus menyewa tempat tinggal sendiri, biaya apartemen sederhana biasanya berkisar SAR 800 – 2.000 per bulan atau sekitar Rp3,5 – 8,7 jutaan, tergantung kota dan lokasi. Kota besar seperti Riyadh tentu cenderung lebih mahal dibanding Madinah atau Jeddah.
Makan Bisa Murah Kalau Pintar Atur
Untuk urusan makan, biaya hidup di Saudi tergantung gaya hidup masing masing. Kalau sering beli makanan cepat saji atau nongkrong di kafe modern, pengeluaran bisa naik cukup cepat. Tapi kalau masak sendiri atau makan di kantin kampus, biayanya relatif aman untuk kantong mahasiswa.
Rata rata mahasiswa menghabiskan sekitar SAR 300 – 700 per bulan untuk makan, atau sekitar Rp1,3 – 3 jutaan. Menariknya, porsi makanan di Saudi terkenal besar, jadi banyak mahasiswa merasa biaya makan di sana masih cukup masuk akal dibanding negara Barat.
Transportasi Nggak Selalu Jadi Beban Besar
Banyak mahasiswa di Saudi lebih sering menggunakan bus kampus atau layanan antar jemput universitas. Karena itu, biaya transportasi harian sering kali tidak terlalu besar.
Namun, untuk mobilitas di kota besar seperti Riyadh, mahasiswa biasanya memakai taksi online. Budget transportasi bulanan umumnya sekitar SAR 100 – 300 atau sekitar Rp430 ribu – 1,3 jutaan, tergantung seberapa sering bepergian.
Cuaca Bisa Jadi Pengeluaran Tambahan
Hal yang sering tidak disadari mahasiswa baru adalah pengaruh cuaca terhadap pengeluaran. Karena suhu di Saudi bisa sangat panas, penggunaan AC hampir nonstop jadi hal biasa, terutama saat musim panas.
Untungnya, kalau tinggal di asrama kampus, biaya listrik sering kali sudah termasuk fasilitas. Tapi untuk apartemen pribadi, tagihan listrik bisa mencapai SAR 150 – 400 per bulan atau sekitar Rp650 ribu – 1,7 jutaan tergantung penggunaan AC.
Gaya Hidup Mahasiswa di Saudi Cenderung Lebih Tenang
Dibanding beberapa negara lain, kehidupan mahasiswa di Saudi cenderung lebih fokus ke kampus, komunitas, dan kegiatan internal. Tempat hiburan umum tidak sebanyak di negara Barat, jadi pengeluaran lifestyle juga sering kali lebih terkendali.
Banyak mahasiswa internasional justru merasa lebih mudah menabung selama tinggal di Saudi. Nongkrong, ngopi, atau belanja tetap ada, tapi ritme hidupnya biasanya lebih sederhana dibanding kota kota besar di Eropa atau Amerika.
Jadi, Mahal atau Tidak?
Kalau dibanding negara seperti Inggris, Amerika, atau beberapa kota besar di Eropa, biaya hidup mahasiswa di Saudi relatif lebih ramah, apalagi untuk penerima beasiswa yang sudah mendapat fasilitas kampus dan tunjangan bulanan.Tapi seperti tinggal di negara mana pun, tetap perlu kemampuan mengatur pengeluaran dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pada akhirnya, pengalaman hidup sebagai mahasiswa di Saudi bukan cuma soal biaya, tapi juga soal belajar hidup mandiri di budaya yang benar benar berbeda. Cek artikel menarik lainnya di lenterabasa.com, ya!
