Follow Us:

Bahasa Inggris Yang Tidak Diajarin Saat Sekolah!

Kita semua pernah sekolah dan belajar bahasa Inggris. Vocabulary, grammar, reading, writing, semuanya sudah dipelajari bertahun-tahun. Tapi begitu keluar dari kelas dan berhadapan dengan percakapan nyata, film, atau media sosial orang asing, tiba-tiba banyak kata dan ekspresi yang terasa asing banget. Padahal itu bahasa Inggris juga.

Ternyata ada banyak aspek bahasa Inggris sehari-hari yang hampir tidak pernah masuk ke kurikulum sekolah kita. Dan ini bukan salah gurunya, memang ada jurang besar antara bahasa Inggris formal yang diajarkan dan bahasa Inggris yang benar-benar dipakai dalam kehidupan nyata.

Bahasa Inggris di Buku vs Bahasa Inggris di Kehidupan Nyata

Di sekolah, kita diajarkan untuk berbicara dan menulis dengan benar secara gramatikal. Kalimat harus lengkap, subjek dan predikat harus ada, dan penggunaan tenses harus tepat. Tapi begitu orang aslinya ngobrol, semua aturan itu sering dilanggar dan itu justru normal.

Native speaker jarang bilang “I am going to the store.” Mereka bilang “I’m heading to the store” atau bahkan cuma “Be right back.” Singkat, kasual, dan penuh konteks yang tidak tertulis di buku mana pun.

Phrasal Verb: Musuh Tersembunyi yang Tidak Pernah Dibahas Tuntas

Ini salah satu yang paling sering bikin pusing. Phrasal verb adalah kombinasi kata kerja dengan preposisi atau adverb yang artinya berubah total dari kata aslinya. “Give up” bukan berarti memberi ke atas. “Run into” bukan berarti berlari ke dalam.

Di sekolah, phrasal verb memang disinggung, tapi tidak pernah benar-benar diajarkan secara mendalam. Padahal dalam percakapan sehari-hari, phrasal verb muncul hampir di setiap kalimat. “Can you look into this?” “I’ll figure it out.”She came across an old photo.” Tanpa memahami ini, percakapan terasa seperti teka-teki.

Filler Words: Kata-Kata yang Tidak Ada Artinya tapi Selalu Ada

Pernah dengar orang bule ngomong “well,” “you know,” “I mean,” atau “like” berkali-kali dalam satu kalimat? Di sekolah kita diajarkan untuk menghindari kata-kata seperti ini karena dianggap tidak baku. Tapi dalam percakapan nyata, filler words justru penting.

Filler words memberi waktu berpikir, menunjukkan keraguan, atau memperlunak pernyataan. “I mean, it’s not that bad” terdengar berbeda dari “It’s not that bad.” Nuansanya berbeda. Dan nuansa itulah yang sering hilang kalau kita hanya belajar dari buku teks.

Sarcasm dan Humor: Yang Paling Susah Ditangkap

Ini yang paling tricky. Bahasa Inggris, terutama versi British sangat kaya dengan sarkasme dan humor kering. Seseorang bisa bilang “Oh, brilliant” dengan nada datar dan maksudnya justru sebaliknya. Atau bilang “That’s… interesting” yang sebetulnya berarti mereka tidak suka.

Tidak ada rumus untuk ini di buku pelajaran. Sarkasme bergantung pada intonasi, konteks, dan pemahaman budaya yang hanya bisa didapat dari paparan langsung, bukan hafalan.

Kenapa Ini Tidak Diajarkan di Sekolah?

Ada alasan strukturalnya. Kurikulum bahasa Inggris di sekolah dirancang untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian standar, bukan percakapan nyata. Bahasa yang diujikan harus konsisten, terukur, dan bebas ambiguitas, hal-hal yang justru membuat percakapan sehari-hari terasa hidup tidak bisa masuk ke soal pilihan ganda.

Selain itu, bahasa terus berkembang. Slang, ekspresi baru, dan cara bicara informal berubah lebih cepat dari siklus revisi buku pelajaran. Jadi ada jeda alami antara apa yang diajarkan dan apa yang sebenarnya digunakan.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sadar bahwa ada jurang ini adalah langkah pertama yang penting. Bahasa Inggris yang kita pelajari di sekolah bukan salah itu fondasi yang baik. Tapi fondasi saja tidak cukup kalau mau benar-benar fasih dan percaya diri dalam percakapan nyata.

Eksposur adalah kuncinya. Menonton film atau series tanpa subtitle, mendengarkan podcast berbahasa Inggris, atau berlatih percakapan langsung dengan tutor bisa mengisi celah yang tidak pernah ditutup oleh buku pelajaran.

Pada akhirnya, bahasa Inggris yang benar di kelas dan bahasa Inggris yang hidup di dunia nyata adalah dua hal yang saling melengkapi. Semakin cepat kita menyadari perbedaan itu, semakin cepat juga kita bisa benar-benar fasih. Jangan lupa cek artikel menarik lainnya di lenterabasa.com buat nambah insight seru seputar bahasa dan budaya!

© 2023 Lenterabasa