Kalau kamu merasa akhir akhir ini makin sering menemukan kata yang terdengar asing tapi tiba tiba resmi, kamu tidak sendirian. Bahasa memang tidak pernah diam. Di Indonesia, masuknya kata seperti kapitil ke dalam KBBI menjelang 2026 jadi tanda bahwa bahasa terus menyesuaikan diri dengan cara orang berbicara hari ini, terutama di ruang digital dan kehidupan sehari hari. Kata yang dulu terdengar santai atau “ngobrol banget”, kini pelan pelan mendapat tempat di ranah formal.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak bahasa besar di dunia juga mengalami hal yang sama. Kamus resmi kini bukan sekadar penjaga bahasa baku, tapi juga pencatat perubahan zaman. Menariknya, setiap bahasa punya cara sendiri dalam meresmikan kata kata baru yang lahir dari kebiasaan penuturnya.
Bahasa Indonesia: Dari Lisan ke KBBI
Masuknya kata kapitil ke KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia semakin akrab dengan realitas penggunaan. Kata ini sudah lama dipakai dalam konteks bangunan atau konstruksi, tapi juga sering muncul dalam obrolan sehari hari. Setelah digunakan luas dan konsisten, barulah ia diakui secara resmi.
Hal ini menegaskan bahwa KBBI tidak berdiri terpisah dari masyarakat. Bahasa baku tidak selalu lahir dari ruang akademik, tapi juga dari percakapan nyata. Ketika sebuah kata hidup dan dipahami bersama, kamus hanya tinggal mencatatnya.
Bahasa Inggris: Doomscrolling dan Realitas Digital
Bahasa Inggris dikenal sangat cepat mengadopsi kata baru. Salah satu contohnya adalah doomscrolling, istilah yang menggambarkan kebiasaan terus menerus membaca berita buruk di media sosial. Kata ini awalnya muncul di internet dan obrolan daring, lalu akhirnya masuk ke kamus resmi seperti Oxford.
Masuknya doomscrolling menunjukkan bagaimana pengalaman modern, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan kesehatan mental, langsung memengaruhi kosakata. Bahasa Inggris cenderung tidak ragu meresmikan kata selama maknanya jelas dan dipakai luas.
Bahasa Prancis: “Infox” Versi Prancis dari Hoaks
Prancis terkenal selektif soal bahasa, tapi tetap tidak kebal terhadap perubahan. Salah satu contoh kata baru yang diresmikan adalah infox, padanan Prancis untuk istilah hoaks atau fake news. Kata ini dibentuk dari gabungan information dan intoxication.
Dengan meresmikan infox, bahasa Prancis menunjukkan caranya sendiri dalam menghadapi fenomena global tanpa harus menelan istilah asing mentah mentah. Bahasa tetap bergerak, tapi identitas linguistik tetap dijaga.
Bahasa Spanyol: “Perreo” dari Jalanan ke Kamus
Dalam bahasa Spanyol, contoh menarik adalah kata perreo, istilah yang merujuk pada gaya menari khas musik reggaeton. Kata ini awalnya identik dengan budaya anak muda dan dunia hiburan, tapi karena penggunaannya meluas di berbagai negara berbahasa Spanyol, akhirnya diakui oleh Real Academia Española.
Masuknya perreo menegaskan bahwa bahasa Spanyol tumbuh dari banyak wilayah sekaligus. Apa yang lahir dari budaya populer bisa naik kelas menjadi kosakata resmi ketika digunakan lintas negara dan lintas konteks.
Bahasa Selalu Hidup, Kamus Mengikuti
Dari kapitil, doomscrolling, infox, sampai perreo, satu hal jadi jelas: bahasa selalu bergerak lebih dulu sebelum kamus menyusul. Kamus bukan pencipta bahasa, melainkan arsip dari kebiasaan manusia yang terus berubah. Jadi, kalau hari ini kamu menemukan kata yang terasa “kok ini sering banget dipakai”, mungkin saja itu calon kata resmi berikutnya. Bahasa bukan sekadar aturan, tapi cermin cara manusia hidup, berpikir, dan beradaptasi dengan zamannya. Cek artikel lainnya di lenterabasa.com, ya!
