Follow Us:

Kenapa Orang Eropa Terobsesi Dengan Nongkrong di Teras?

Kalau kamu pernah jalan jalan ke kota kota di Eropa, ada satu hal yang pasti kamu notice: kursi kursi di teras kafe selalu penuh. Entah pagi, siang, atau bahkan saat udara agak dingin, orang orang tetap santai duduk di luar, minum kopi, ngobrol, atau sekadar melihat orang lewat. Buat kita yang terbiasa nongkrong di dalam ruangan ber-AC, ini mungkin terasa unik.

Pertanyaannya, kenapa sih mereka begitu “obsesif” dengan duduk di teras? Ternyata, ini bukan cuma soal kopi atau gaya hidup estetik ala Instagram. Ada budaya, sejarah, sampai cara mereka menikmati hidup yang ikut berperan.

Nongkrong Itu Bagian dari Budaya, Bukan Sekadar Waktu Luang

Di banyak negara Eropa, duduk di teras kafe bukan aktivitas iseng. Itu bagian dari budaya sosial. Orang datang bukan untuk buru buru minum lalu pergi, tapi untuk menikmati momen. Duduk lama tidak dianggap aneh. Bahkan pelayan jarang mengusir tamu yang sudah selesai minum. Waktu terasa lebih pelan. Nongkrong jadi ruang untuk ngobrol panjang, diskusi serius, atau sekadar menikmati suasana kota.

Menikmati Matahari Itu Mewah

Bagi negara yang punya musim dingin panjang, matahari adalah harta. Saat cuaca cerah datang, orang Eropa cenderung memanfaatkannya maksimal. Duduk di teras berarti menyerap sinar matahari, menghangatkan badan, dan memperbaiki mood. Bahkan di suhu yang menurut kita sudah dingin, mereka tetap nyaman duduk di luar dengan jaket tebal. Selama ada cahaya matahari, teras tetap jadi pilihan.

Budaya “People Watching”

Salah satu hiburan sederhana yang populer di Eropa adalah people watching, alias mengamati orang lewat. Duduk di teras memungkinkan mereka melihat kehidupan kota berjalan: turis kebingungan, pasangan berjalan santai, musisi jalanan tampil. Ada kepuasan tersendiri dalam merasa menjadi bagian dari ritme kota. Nongkrong di teras bukan cuma soal minuman, tapi soal menjadi saksi kehidupan sehari hari.

Kota yang Dirancang untuk Duduk di Luar

Banyak kota di Eropa memang dirancang ramah pejalan kaki. Trotoarnya lebar, alun-alunnya luas, dan bangunannya estetik. Teras kafe jadi perpanjangan ruang publik. Alih-alih hanya tempat makan, teras berubah menjadi ruang sosial terbuka. Kota terasa hidup karena orang orang hadir dan terlihat.

Filosofi Hidup yang Lebih Slow

Mungkin yang paling terasa adalah perbedaan cara memandang waktu. Di beberapa budaya Eropa, terutama di Eropa Selatan, menikmati hidup dianggap sama pentingnya dengan bekerja. Duduk santai dengan kopi kecil bisa berlangsung satu jam tanpa rasa bersalah. Konsep seperti ini mengajarkan bahwa produktif bukan berarti harus selalu sibuk. Kadang, diam dan menikmati suasana justru bagian dari kualitas hidup.

Jadi, Obsesi atau Cara Menikmati Hidup?

Kalau dilihat lebih dalam, ini bukan soal obsesi. Nongkrong di teras adalah bentuk sederhana dari menghargai momen, cuaca, percakapan, dan ruang publik. Sesuatu yang terlihat sepele ternyata punya makna sosial dan budaya yang kuat.Mungkin yang bisa kita pelajari bukan cuma kebiasaan duduk di luar, tapi cara mereka memperlambat langkah dan benar benar hadir di saat itu juga. Karena pada akhirnya, secangkir kopi di teras bisa jadi lebih dari sekadar kopi. Cek artikel menarik lainnya di lenterabasa.com, ya!

© 2023 Lenterabasa