Pernah nggak kamu bertemu seseorang yang bisa ngobrol santai dalam beberapa bahasa sekaligus tanpa terlihat kesulitan sedikit pun? Mereka bisa pindah dari bahasa Inggris, lalu menanggapi dalam bahasa Prancis, kemudian tertawa menggunakan bahasa Spanyol, semuanya dengan ritme yang begitu alami. Orang seperti itu dikenal dengan sebutan polyglot. Fenomena ini selalu terasa menarik karena kemampuan menguasai banyak bahasa sering dianggap sebagai “superpower” kecil yang membuka berbagai pintu: mulai dari kesempatan kerja hingga pertemanan internasional. Selain itu, kemampuan multibahasa juga memberikan sensasi puas tersendiri, karena kamu bisa terhubung dengan lebih banyak manusia, budaya, dan cara pandang yang mungkin sebelumnya terasa jauh.
Menjadi polyglot bukan fenomena baru. Banyak masyarakat di dunia sebenarnya tumbuh dalam lingkungan multilingual tanpa sadar. Anak-anak di beberapa negara Afrika terbiasa memakai bahasa lokal di rumah, bahasa nasional di sekolah, dan satu bahasa internasional dalam media. Bahkan di Indonesia, sebagian orang juga mengalami hal serupa: berbahasa daerah di rumah, Bahasa Indonesia untuk komunikasi formal, dan bahasa asing untuk belajar. Jadi, dunia polyglot itu jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan.
Dari Mana Sih Istilah Polyglot Berasal?
Istilah polyglot berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu polý yang berarti “banyak”, dan glotta yang berarti “lidah” atau “bahasa”. Secara harfiah, polyglot berarti seseorang yang memiliki atau menguasai banyak bahasa. Pada masa lampau, kemampuan ini bukan sekadar prestise, tetapi kebutuhan. Pedagang yang melakukan perjalanan antarwilayah membutuhkan bahasa untuk melakukan negosiasi, sementara para filsuf dan sarjana Eropa pada abad ke-17 sering mempelajari berbagai bahasa untuk meneliti naskah kuno. Misionaris yang dikirim ke berbagai benua juga harus memahami bahasa lokal agar bisa berkomunikasi dengan komunitas yang mereka datangi.
Di era modern, istilah polyglot tak lagi terbatas pada tokoh akademik atau penjelajah. Kata ini merambah ke masyarakat luas, terutama sejak internet dan media global membuat pembelajaran bahasa semakin mudah. Kini, seseorang yang belajar beberapa bahasa melalui drama Korea, video YouTube, aplikasi belajar, atau percakapan daring pun bisa disebut polyglot jika mereka benar-benar mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Sih yang Membuat Polyglot Bisa Mengejar Banyak Bahasa?
Banyak orang mengira polyglot memiliki otak yang secara alami “lebih berbakat” dalam bahasa. Namun para peneliti menyebutkan bahwa meskipun kemampuan bawaan seperti kepekaan fonetik bisa membantu, faktor terbesar justru datang dari kebiasaan. Polyglot cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap budaya lain. Mereka menikmati proses belajar, bukan hanya mengejar hasil akhirnya. Ada yang suka membedah struktur kalimat, ada yang senang meniru aksen native speaker, sementara yang lain lebih suka terjun langsung dalam percakapan dan membiarkan otak mereka menyesuaikan diri.
Banyak polyglot menggunakan metode yang beragam dalam belajar: membaca buku, menonton film, mendengarkan podcast, menulis jurnal, hingga membuat catatan kecil di ponsel. Mereka tidak terpaku pada satu cara. Kuncinya adalah konsistensi dan menjadikan bahasa sebagai bagian dari aktivitas harian. Menariknya, beberapa polyglot mengaku memulai karena hal sederhana seperti jatuh cinta pada musik tertentu, ingin memahami budaya negara tertentu, atau harus menggunakan bahasa asing di tempat kerja.
Apakah Polyglot Harus Selalu Sempurna?
Salah satu miskonsepsi besar adalah anggapan bahwa polyglot harus mahir dan lancar total di semua bahasa yang mereka pelajari. Kenyataannya, hampir tidak ada polyglot yang benar-benar “sempurna” dalam seluruh bahasanya. Mereka biasanya memiliki tingkat kemahiran yang berbeda-beda. Ada bahasa yang mereka kuasai seperti penutur asli, ada yang berada di tingkat menengah, dan ada pula yang hanya bisa digunakan untuk percakapan dasar. Hal ini sangat normal karena kemampuan bahasa selalu berkembang sesuai pemakaian. Bahasa yang jarang digunakan cenderung “karatan”, sementara bahasa yang sering dipakai akan lebih terasah.
Jadi, untuk disebut polyglot tidak ada standar baku yang mengharuskan seseorang mencapai tingkat tertentu. Intinya bukan seberapa sempurna seseorang dalam berbahasa, tetapi seberapa mampu mereka menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi, memahami orang lain, dan menghubungkan diri dengan dunia luar.
Bisa Jadi Polyglot Itu Mustahil? Tentu Tidak!
Banyak polyglot memulai dari satu bahasa tambahan saja, lalu tanpa terasa berkembang ke bahasa lain setelah menemukan ritme dan metode yang cocok. Di era digital seperti sekarang, belajar bahasa jauh lebih mudah. Salah satunya dengan mengikuti kelas bahasa asing secara daring seperti yang bisa kamu lakukan di Lenterabasa, loh. Selain itu, kamu juga bisa menonton film dengan subtitle bahasa asli dan mendengarkan lagu sambil membaca liriknya.
Belajar bahasa bukanlah hal yang sulit. Menonton drama, membaca komik, sampai bermain game dengan pemain dari negara lain bisa menjadi pintu masuk yang efektif. Ketika prosesnya menyenangkan, otak lebih mudah mempertahankan informasi. Itulah mengapa banyak polyglot menganggap pembelajaran bahasa bukan tugas berat, tetapi bagian dari gaya hidup mereka.
Pada akhirnya, menjadi polyglot bukan soal mengumpulkan sebanyak mungkin bahasa, tetapi soal memperluas cakrawala dan membuka diri pada pengalaman baru. Siapa pun bisa memulai perjalanan ini, bahkan dari langkah kecil seperti mempelajari salam, angka, atau frasa sederhana. Cek artikel menarik lainnya di lentarabasa.com, ya!
